Someone POV
Aku berlari kecil menuju rumahku, aku membuka pintu gerbang dan segera mengetuk pintu rumah yang terkunci. Sepertinya tidak ada orang didalam, Aku berjalan ke halaman belakang dan mengambil kunci cadangan. Aku berlari cepat kembali ke depan pintu rumah dan langsung menyalakan setiap lampu. Aku tersenyum kecil dan segera masuk kekamarku. Aku masuk kekamar mandi dan membersihkan tubuhku, setelah itu aku langsung memakai piyamaku dan berbaring di tempat tidur
Aku tidak pernah merasakan sebahagia ini, aku tidak pernah tersenyum puas selain bersama MinRin. Aku selalu merasa canggung bila bersama pria. Aku merasakan semuanya hari ini. Aku bisa bebas tersenyum tanpa memikirkan bagaimana nilaiku, bagaimana jika ibu membuang kertas ulanganku. Bahkan aku sudah tidak merasa kesal dengan kejadian meninggalkan jam pelajaran kesukaanku.
“Noona !”ujar EunHo yang tiba tiba membuka pintu kamarku, aku langsung beranjak duduk ketika EunHo berjalan menghampiriku “Wae? Sedang senang ya”
“Ani... lain kali kalau masuk kamar perempuan bilang bilang dong, ketuk pintu dulu”
“Mianhae, lihat ini. Aku bawa makan malam untuk kita”
“Apa ini ? Ahm pasti jajangmyeon kan ?”
“ne, aku mau mandi. Noona yang menyiapkannya ya”pinta EunHo membuatku menggagguk dan segera berjalan menuju dapur.
Aku membuka bungkusan jajangmyoen, hanya ada 2 porsi disana. Aku menggelengkan kepalaku pelan, pasti EunHo tidak membelikan untuk Eomma dan Appa. Aku menghela nafas panjang dan segera menyiapkan Jajangmyeon ke sukaan EunHo dia atas meja. Ku ambil gunting dan segera memotong kimchi dipiring dan menghidangkannya dimeja makan.
“Aish ~ lapar”teriak EunHo yang sudah berlari menuruni tangga “Makan makan”
“EunHo ah, kenapa Cuma ada 2 porsi ?”
“Kenapa tidak pernah ada makanan kalau mereka tidak ada ?”
“EunHo ah~”
“Noona makan dulu ya, aku benar benar lapar”
Aku terdiam melihat adikku yang sedang melahap makanannya. Tidak, ini tidak boleh begini. EunHo tidak boleh terus bersikap begini. Semenjak masuk ke SMA, EunHo selalu dimarahi oleh Appa dan Eomma karna nilai pelajaran MIPA tidak memuaskan, EunHo memang kurang berminat dengan pelajaran MIPA, dia sama denganku lebih menyukai Seni dibandingkan pelajaran eksak.
Tapi EunHo berbeda denganku, EunHo berani berkata tidak dan bertindak seperti sekrang. Dia berani untuk mengambil keputusan sendiri walaupun Appa sudah memarahinya karna keputusannya itu. Itulah yang menyebabkan hubungan EunHo dan orang tuaku jadi rusak. Karna sindiran kedua orang tua ku juga, EunHo jadi suka berkelahi disekolahnya. Aku menghabiskan jajangmyeon ku dan segera mencuci piring kotor.
Aku melihat EunHo berjalan perlahan kekamarnya dan segera mengunci pintu kamarnya. Itulah yang dilakukan EunHo setiap malam, menyendiri dan tidak ingin kedua orang tuaku masuk kekamarnya. Aku berjalan perlahan menuju pintu kamar EunHo dan mengetuknya pelan. Baru menghela nafas, EunHo sudah membuka pintu dan mempersilahkanku masuk.
Aku melihat kesekeliling kamar EunHo, koleksi lukisannya sudah semakin banyak. Semua lukisan pemandangan, hewan dan buah. Hal ini juga merupakan salah satu faktor EunHo tidak mengizinkan siapapun masuk kekamarnya selain aku.Aku tersenyum kecil dan membereskan kuas yang berserakan di tempat tidur EunHo. Aku duduk ditempat tidur EunHo sambil memandang sketsa wajah yang belum jadi. Ini ? wajah ? tidak biasanya EunHo melukis wajah manusia.
“Ini siapa ?”tanyaku sambil menunjuk goresan pensil yang belum jadi itu
“Ada deh, nanti juga Noona tau”
“Aham~ pacarmu ya ?”
“Ani.. ini wanita tercantik nomer 1”
“Siapa
“Ani.. ini wanita tercantik nomer 1”
“Siapa
?”
“Mau tau aja sih, sana ah. Kau lagi konsentrasi -” EunHo terdiam ketika terdengar suara mobil memasuki garasi. EunHo beranjak berdiri dan melihat kearah jendela dan berdercak pelan. Itu pasti kedua orang tuaku. Aku beranjak berdiri dan memeluk EunHo
“Selamat tidur, jangan tidur terlalu malam”ujarku pelan dan segera keluar dari kamar EunHo
Ketika aku keluar, EunHo langsung mengunci pintu kamarnya. Aku berjalan perlahan menuju kamarku dan segera mengunci pintu juga. Aku segera berbaring dan memandang langit langit kamarku. Hah~ sudah lama rasanya, sudah lama Eomma tidak mengucapkan selamat tidur padaku dan EunHo.
Someone POV
“Hyung”teriak seseorang dari belakang, Aku berbalik dan tersenyum melihat magnae di grup kami berlari sambil membawa kue beras yang kupesan
“hah~ cape hyng, ini pesananmu”
“Gomawo, sepertinya kau sudah benar benar sehat ya”
“maksud hyung ? kukira kau masih sakit. Apa lagi ketika syuting kemarin, sikapmu benar benar aneh”
“Mianhae, aku pasti merepotkan kalian kan ? hah~ aku jadi malu”
“kalau malu jangan panggil aku hyung, tapi sunbae”ejekku membuat dia tersenyum dan
memberikan sebungkus kue beras pesananku
“Hyung baik baik saja kan ?”
“He ? maksudnya ?”
“Kulihat hyung baik baik saja kemarin, Hyung hebat”
“Aku ? hebat ? memang itu kenyataannya”ujarku dan tersenyum tipis “Aku mau ketoko bunga dulu, tunggu disini”
Aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dan memasuki toko bunga yang cukup besar, aku memesan bunga lili untuk ditaruh di ruang tamu rumah. Ini pesanan Leeteuk hyung, aku bersandar didinding dan memakukan pandanganku pada sepasang kekasih yang ada dihadapanku.
Aku merasakan detak jantungku kian cepat, nafasku tak beraturan lai. Dada ini mulai sesak, aku berbalik kearah dinding dan menempelkan dahiku didinding. Kapan ? kapan kau meminta ku membelikan bunga itu lagi ? kapan kau memintaku membelikan mawar violet itu lagi. Kalian salah jika menggangapku hebat, kemarin saat ku tahu kita akan ke SIS, dada ini terasa sesak dan sangat tidak nyaman, tapi aku tidak boleh begni terus. Aku segera menghapus air mataku yang terjatuh perlahan. Aku beranjak keluar dari toko bunga sambil memegang bunga lili yang sudah dirangkai di pot.
Aku berjalan masuk kemobil dan segera berkendara menuju rumahku. Aku melihat da kadang terkekeh pelan melihat magnae yang duduk disebelahku, yang sudah sibuk dengan PSPnya. Aku menyalakan musik dan ikut bersenandung bersama Kyuhyunkemobil dan segera berkendara menuju rumahku. Aku melihat da kadang terkekeh pelan melihat magnae yang duduk disebelahku, yang sudah sibuk dengan PSPnya. Aku menyalakan musik dan ikut bersenandung bersama Kyuhyun yang masih menyelamkan dirinya didunia game. Tiba tiba aku terpaku dengan sosok perempuan dengan rambut panjang yang tergurai hingga pinggangnya, duduk didepan halte bus.
“Hyung mau kemana?”tanya Kyuhyun yang sepertinya terkejut melihatku memarkirkan mobil didepan halte. Aku menggangguk dan segera keluar dari mobil, aku menghampiri wanita dengan buku tebal dipangkuannya. Aku menepuk pundaknya pelan membuat gadis itu berbalik melihatku
“Annyeong”ujarku sambil tersenyum padanya, dugaanku tepat itu EunMi
“Ah, annyoeng”jawabnya dan langsung menunduk sopan padaku
“Mau pulang ? sekalian saja bareng”
“Anio... gomawo, aku bisa pulang sendiri. Lagipula busnya sudah datang”
“Ani... kau harus ikut dengan kami”ujar ku dan langsung menarik tangan EunMi dan membukakan pintu mobil untuknya “kaja”
“tapi-”
“Kaja !”ujarku sambil menaikan nada suaraku
EunMi menggangguk kecil dan segera memasuki mobil. Aku pun segera beralih masuk ke mobil dan menjalankan mobil. Suasana jadi hening sejenak, aku melihat kearah Kyuhyun yang terus diam. Sepertinya ada yang aneh dengan Kyuhyun. Tidak biasanya dia se canggung ini. Aku melirik kearah spion dalam dan melihat EunMi yang masih sibuk membenamkan dirinya dibuku tebal biologinya
“Belajar terus ? serius banget lagi, ga cape belajar terus ?”
“ani... ini kewajibanku”
“Ya iyalah, kan mau jadi dokter dengan IP terbaik di Universitas terkenal di SEOUL”
“Nde ?”
“darimana kamu tahu ?”tanya EunMi membuat Kyuhyun menjadi sedikit bingung
“ya... hanya menebak, habis buku yang dibaca biologi, ya kukira kau mau menjadi dokter”jawab Kyuhyun sedikit gugup
“Ah, berhenti disini”ujar EunMi tiba tiba membuatku sedikit kaget dan menghentikan mobil “terima kasih tumpangannya, adikku sudah menunggu disana”
“Ah ya sama sama, hati hati ya EunMi ah”
“Ne, gomawo Heechul shi dan ...”
“Kyuhyun”
“ah iya, Kyuhyun shi. Aku permisi dulu”ujarnya dan segera beranjak keluar dari mobil
Aku melihat EunMi yang berlari kecil menuju seorang pria yang sedang menunggu dimotornya. EumMi langsung naik ke motor dan melambaikan tangannya kearah mobil kami. Aku menekan klakson dan segera menjalankan mobil menuju ke rumahku.
Someone POV
Hari ini ada test untuk pelajaran kebudayaan, pelajaran ini memang tidak terlalu penting untuk penjurusan universitas. Tapi pelajaran ini tetap menentukan untuk kelulusanku nanti. Hari ini kami para siswa dan siswi akan diuji dengan test kebudayaan, bukan tertulis tetapi praktek. Test untuk hari ini dikhususkan untuk wanita terlebih dahulu. Para siswi sudah bersiap diruang ganti, semu orang saling bergantian memakai pakaian hanbok masing masing.
Aku juga memakaikan hanbok milik MinRin, dia terlihat cantik dengan hanbok merah hitamnya yang telihat sangat anggun sekali. Aku mengepang rambut pendek MinRin dan memberinya sedikit pita dengan corak merak emas yang pernah dibelikan ayahku dulu. Aku berlari kecil dan mengambil cermin kecil di kolong mejaku
“sudah jadi”
“Wah cantik... Aish gomawo EunMi ah, sekarang cepat pakai hanbokmu”
“Aku... aku nanti aja, kan masih lama testnya”
“Kaja !”seru MinRin sambil menyodorkan hanbok violetku “Aku sangat suka jika kau memakai hanbok violet ini, corak peraknya membuat hanbokmu terlihat mewah”
“Gamshamnida MinRin ah”
Aku segera memakai hanbok violetku. Aku menatap cermin besar diruang ganti dan tersenyum kecil. Aku senang hanbok ini masih cocok ditubuhku, Aku segera menyisir rambutku dan menggulungnya tinggi. Aku suka jika rambut ini tidak mengganggu saat ujian nanti. Aku keluar dari kamar ganti, dan entah kenapa semua orang menatapku aneh. Aku melirik kearah MinRin dan dia tersenyum manis padaku.
“Wae ?”
“kau seperti putri raja, EunMi ah”
“ha ? jinjja ? eottohke aku harus gimana ?”
“sekarang yang penting tersenyum”
“Ayo semua keruang audio visual”
Ah aku harus berpisah dengan MinRin sekarang, sistem test disekolah ini sangatlah sulit untuk dimengerti. Siswi akan diacak untuk mengikuti beberapa tes. Test memasak, merangkai, sampai tradisi Sebae (memberi hormat). Aku menatap MinRin yang baru memberikan selembar kertas dengan jadwal test milikku.
“Aku memasak dulu”
“Yah~ aku Sebae. Bagaimana ini ?”
“gwenchana, tahun kemarin juga kita seperti ini”
“mianhae, sebagai gantinya nanti setelah test selesai kita makan di taman belakang ya”
“ne, maaf MinRin ah aku duluan ya, aku ... aku harus segera ke dapur”
“ne” aku segera beranjak berjalan menuju dapur “Kim EunMi fighting”teriak MinRin
“Gomawo, kamu juga ! Fighting”balasku dan segera menggangkat rok panjangku dan berlari menuju dapur.
Aku memasuki ruang test yang sudah dipenuhi banyak orang. Aku melihat sisi meja dan mencari nomor urutku. Binggo mejaku dipojok belakang dekat jendela. Ini tempat keberuntunganku. Aku segera bersiap disana dan melihat bahan makanan yang ada didepanku. Tepung beras, wijen, dan kacang hijau ? wow mau bikin apa. Aku mulai berfikir sebentar dan tiba tiba pengawas ujian sudah berdiri didepan
“Seperti yang sudah kalian lihat, sudah ada bahan makanan didepan kalian kan. Sekarang pikirkan sendiri apa yang harus kalian buat, kami hanya memberikan waktu 2 jam, arasso ?”jelas pengawas membuat kami menggangguk serentak “Mulai !”
Aku mengambil celemek yang sudah disediakan dan segera memakainya, ini seperti menghidangkan makanan untuk raja. Untuk raja ? kenapa aku tidak membuat makanan istana ya. Songpyeon, ini kan sudah mau tahun baru chuseok. Ya aku buat Songpyoen saja.
Aku mengambil tepung beras dan garam, aku langsung mencampurnya menjadai satu, perlahan aku mengambil air hangat sedikit demi sedikit. Aku terus mengaduk adonan sampai sedikit kental. Aku mengambil daun pandan dan meremasnya kuat sehingga mengeluatkan warna hijau. Setelah memberikan warna hijau diadonan, aku segera membentuk adonan menjadi bentuk yang bervariasi.
Tak lupa aku mengisinya dengan wijen dan kacang hijau rebus. Setelah semua terbentuk aku segera mengukus Songpyeon buatanku. Aku mengambil piring dan menghiasnya dengan kacang hijau dan daun pandan. Setelah menunggu selama 30 menit, aku segera mengeluarkan Songpyeon ku dan menyajikannya dengan olesan minyak wijen.
Setelah selesai membereskan mejaku, aku segera berjalan menuju meja pengawas. Aku menunduk hormat sambil mengulurkan tanganku memberikan Songpyeon buatanku. Aku meletakkan piringku diatas meja dan segera berjalan keluar ruang tes. Aku menghela nafas lega dan melihat diriku di cermin besar yang ada didepan pintu. Yang penting hanbokku jangan rusak dan kotor. Karna hanbok sangat mempengaruhi nilai untuk test Sebae. Aku segera mengeluarkan jadwalku, sekarang waktunya Merangkai
Aku berjalan perlahan menuju ruang seni. Ini adalah ruang favoritku, test yang satu ini juga merupakan test favoritku. Merangkai bunga, aku sangat menyukainya. Aku memasuki ruangan tes dan hanya beberapa orang saja yang ada disana. Aku segera berjalan meencari namaku, binggo lagi lagi di belakang. Aku sangat menyukai meja paling belakang apalagi kalau didekat jendela. Itu membuatku mudah mendapatkan inspirasi. Semua test ku lewati dengan sangat baik. Aku segera berlari menuju taman belakang, sesuai janjiku dan MinRin.
Aku duduk dibawah pohon yang masih rindang dan menunggu kedatangan Minrin. Aku menoleh kesuara langkah kaki yang mulai mendekat kearahku. Aku melihat sosok Minrin yang langsung memelukku, hingga kami berdua tersungkur direrumpuran belakang sekolah.
“Wae ?”tanyaku yang melihat MinRin begitu senang
“Aku berhasil melakukannya, aku bisa memasaknya”
“Jinjja, bagus lah. Kau sudah melakukan yang terbaik”
“ne, tapi tetap saja, selalu kamu yang selesai duluan”ujar MinRin membuatku terkekeh pelan. Tiba tiba kami mendengar suara teriakan dari dalam gedung sekolah.
“apa nilai sudah keluar ?”tanya MinRin membuatku menggangkat bahuku “Ayo kita lihat”serunya dan segera menarik tanganku dan berlari kedalam gedung sekolah.
Kami melihat papan pengumuman sudah dipenuhi oleh para murid. Aku melihat Minrin yang sangat antusias melihat nilai. Aku tidak pernah seantusias dia, aku tidak pernah sepenasaran dia jika melihat nilai.
Aku menjinjitkan tubuh mungilku dan mencari nama MinRin. Ada, dan dia... peringkat 4.
“MinRin ah, chukae”ujarku dan segera memeluknya
“Wae ?”tanyanya yang masih belum melihat peringkatnya
“Kamu peringkat 4”
“jinjja ? Ah~ senang sekali”serunya kecang dan memelukku erat “Dan kau... sebentar aku yang lihat”
“Sudah tidak usah dilihat”
“Yash~ kau, seperti biasa. Peringkat 1 lagi” Brak~ tiba tiba pintu terbuka dengan kasar dan terlihat 3 orang wanita yang memiliki tampang angkuh berjalan dari sana. Seolah olah diatur, kami semua menyingkir dari kerumunan dan membiarkan gadis gadis itu memasuki ruangan.
Lee HyeMin, seorang putri tunggal direktur nomor satu. Ia berjalan dengan hanbok yang mewah bagai ratu dikerajaan. HyeMin adalah murid pindahan yang paling kaya. Sejak kelas 2 dia selalu menyinirku dan tidak pernah menyukaiku sedikit pun. Ia mengulurkan tangannya dan mencari namanya dipapan pengumuman. Tiba tiba Ia meliriku dan menghampiriku dengan aura seolah olah ingin membunuhku. MinRin menggenggam tanganku dan sedikit merasa gelisah
“KIM EUNMI”bentaknya membuatku terdiam dan tetap menatapnya
“wae ?”
“kau... beraninya mengambil posisi nomer 1 ku”
“Kenapa kau berpikir begitu ? aku tidak mengambilnya”
“hooo sudah berani melawan, memangnya kau pikir kau siapa !”ujarnya dan melepaskan tusuk sanggul rambutku. Ia melemparnya ke lantai dan menginjaknya
“jangan !”seruku dan segera mendorong tubuhnya dan mengambil tusuk sanggulku, ini pemberian pertama EunHo untukku. Memang bukan barang mahal tapi EunHo membelinya dengan uangnya sendiri dari menjual lukisannya.
“Ya !”balas HyeMin dan segera menarik tanganku “kau tak penah diajarkan sopan santun ya !”teriak HyeMin
“Ah~ aku lupa, kaukan anak yang dilupakan. Kau hanya boneka orang tuamu kan, mungkin sekarang kau tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua lagikan. Apa ibumu masih memasakan makanan untukmu, apa ayahmu masih mengantarmu kesekolah”
“hentikan”ujarku yang merasa malu dan merasa semua yang dikatakan HyeMin adalah benar, Aku merasa tubuhku mulai merinding dan lemas
“Karna orang tuamu yang tidak perduli lagi makanya adikmu jadi berandalkan, berkelahi dimanapun. Adikmu sama sekali tidak berguna”
“Diam, tutup mulutmu”seruku, aku merasa pandanganku merabun dan mataku mulai memanas. Jangan jangan jelek jelekan EunHo didepanku
“kalian anak yang dibuang”seru HyeMin membuatku merasa jantungku kiat berdetak cepat, aku merasa sulit bernafas sekarang. Dada ku mulai sesak
“HYEMIN SSHI ! TUTUP MULUTMU”teriak MinRin dari belakang, dan segera memelukku “jangan... jangan dengarkan dia, kumohon”ujar MinRin sambil memelukku dengan erat.
Aku merasa malu, aku ... aku harus lari. Aku melepaskan pelukan MinRin dan segeraberlari keluar dari gedung sekolahku. Aku berjalan terus sambil mengeluarkan air mataku. Sepanjang perjalanan aku tahu, semua orang sudah melihat kearahku. Aku tidak bisa, aku sudah tidak perlu malu lagi. Aku sudah kehilangan rasa itu. Aku benar benar... aku benar benar boneka kedua orang tuaku, selebih itu... aku hanya anak buangan. Aku terus menangis dan membiarkan air mataku jatuh bersamaan air hujan yang baru turun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar