#Part 01#
Ji Rin PoV
Udara dingin masih terasa diawal musim semi ini. Sekeliling kota terasa ramai dengan perjalan kaki yang memenuhi trotoar jalan. Toko toko kecil berceceran dimana mana. Sebentar lagi valentine tiba, semua kaum perempuan seolah sibuk dan rela mengulurkan waktu mereka untuk hari itu
Semua toko coklat sudah terisi penuh dengan gadis gadis yang merasakan sebuah kewajiban bertukar coklat saat valentine nanti. Berbeda denganku yang masih sibuk bertaut dengan iPod dan coklat panas yang ada ditanganku. Aku hanya menghentakkan kaki perlahan tanpa memperdulikan suasana pink di sekelilingku
Musik ditelingaku terhenti sekarang, hal itu membuatku menghela nafas perlahan dan melirik kearah jam tanganku. Ini sudah lewat setengah jam. Kuhirup lagi hot chocolateku agar bibirku tidak membeku lagi. Perlahan ku tolehkan pandanganku kearah toko coklat yang berada didepanku.
Terlihat sosok gadis dengan rambut ikal panjangnya keluar dari toko itu, ia membawa beberapa keranjang ditangannya. Aku tersenyum melihat gadis itu yang sudah ada didepanku. Ia tersenyum pada ku. Setiap valentine, aku selalu menunggunya disini sambil meminum hot chocolate, karna aku tidak suka berdesakan ditempat itu.
"Lama ya Ji Rin ? Mianhae, aku sudah berusaha secepat mungkin tadi. Hanya saja kasirnya penuh jadi haru-"
"Sudah tidak apa, sini ku bantu sayang"
"Anio, ayo kita pulang saja. Ini, happy valentine sahabatku Jung Ji Rin"ujar gadis itu sambil memberikan sekotak coklat padaku
"Ini buatku ?"Tanyaku membuatnya mengangguk kecil "gomawo Mi Yeon ah"
Ia tersenyum dan langsung menggandeng tanganku. Kami langsung berjalan menyusuri jalan. Wajahnya terlihat ceria setiap hari valentine akan tiba. Aku pasti bisa tersenyum seperti itu padanya. Jika aku tidak tahu hal yang sangat penting, hal yang buruk yang menimpa sahabatku.
Choi Mi Yeon, sahabat ku sejak kecil. Gadis yang sangat periang, dia juga cantik dan sangat feminin. Sangat berbanding terbalik dengan ku. Walaupun begitu, dia sangat menerimaku apa adanya. Akupun sangat menyayanginya seperti adikku sendiri. Sampai sampai aku berjuang masuk SMA yang sama dengan Mi Yeon.
Tapi, 3 bulan yang lalu. Semuanya berubah. Senyuman Mi Yeon tak seindah dulu lagi. Secarik kertas telah mengubah hidupnya. 3 bulan yang lalu, Mi Yeon di vonis menderita leukimia. Akhir akhir ini wajahnya benar benar pucat. Tidak semerona biasanya. Ia terlihat tegar, walaupun terkadang ia sering menangis dibelakangku.
Valentine day, adalah hari yang sangat di sukai Mi Yeon. Ia sangat suka menjual coklat coklat buatannya sendiri. Ia bahkan membentuk coklat coklat dengan berbagai bentuk. Semenjak SMP memang sudah menjadi hobby nya melakukan ini. Langkah kami terhenti didepan rumahnya.
Mi Yeon tersenyum dan melambaikan tangannya padaku sambil tersenyum. Aku berjalan perlahan pulang kerumah. Ku habiskan hot choco ku dan membuangnya ke tempat sampah. Aku mengambil kotak coklat yang diberikan Mi Yeon tadi. Aku tersenyum kecil dan langsung memasukannya ke saku rok ku.
Mi Yeon, kenapa kau bisa seperti itu ? Jika aku bisa meminta, kumohon sembuhkan Mi Yeon. Aku merasa air mata jatuh dipipiku. Aku berjanji padamu, aku akan membahagiakanmu Mi Yeon ah. Percayalah padaku. Aku tidak akan mengecewakanmu. Aku akan menjadi sahabat terbaikmu. Aku janji.
Sesampainya dirumah, aku langsung mengganti baju dan makam malam. Ku tolehkan pandanganku kearah jam dinding, sudah jam 8. Aku harus tidur, besok aku harus latihan basket pagi dan siang hari. Baru ingin memejamkan mata, ponselku berdering disebelahku. Aku langsung meraih ponselku, Mi Yeon ? Ada apa ?
"Yoboseyo ? Mi Yeon ? Gwenchanayo ?"
"Apa sih ? Tentu saja aku baik baik saja. Aku tidak mengganggumu kan ?"
"Tentu saja tidak, jangan bodoh. Ada apa menelfonku ? Ada masalah ?"
"Bukan begitu, ahm apa besok kau bisa menemaniku ? Aku harus mengantar coklat setelah pulang sekolah"
"Ha ? Besok ya ? Aku-"
"Tidak bisa ya, ya sudahlah tidak apa apa"
"Anio... Aku bisa kok. Tenang saja"jawabku cepat. Biarlah, aku tidak harus datang saat pertandingan besok. Masih ada yang lain kan.
***
Mi Yeon PoV
Buku buku ku sudah tersusun rapi didalam tasku. Aku tersenyum kecil dan mengeluarkan sekotak coklat yang akan ku antar. Perlahan kupandang langit diluar yang sudah mulai gelap. Angin menyapa dedaunan. Aku langsung menyandang tasku, ku langkahkan kakiku keluar dari kelas untuk menemui Ji Rin.
Aku tersenyum kecil melihat gadis dengan rambut pendek berdiri didekat tangga sekolah. Itukan Ji Rin. Syukurlah aku bertemua disini. Tetapi langkahku terhenti melihat beberapa orang anggota basket menghampiri Ji Rin yang sedang termenung didekat tangga sekolah.
"... Kau tidak bisa meninggalkan pertandingan begitu saja Ji Rin ah. Jangan bodoh"
"Aku harus pergi, maafkan aku teman teman"
"Anio, dia akan ke ruang klub. Tenanglah"ujarku membuat Ji Rin berbalik
"Mi Yeon, aku akan menemanimu-"
"Gwenchana, aku baik baik saja. Aku tidak akan apa apa, aku janji. Jadi ... Pergilah"ujarku sambil tersenyum
"Anio, aku akan tetap menemanimu. Mengerti ?"
"Begini saja. Pergilah dulu, nanti kau bisa menjemputku ditempat ini. Bagaimana ? Setuju ?"
"Benar tidak apa apa ?"Tanyanya membuatku mengangguk cepat dan tersenyum lagi "hah, arasso. Jangan pergi kemanapun sebelum aku menjemputmu"
"Yes madam"jawabku cepat membuatnya mengangguk dan berlari menuju gedung olahraga.
Angin mulai menyapa sekujur tubuhku. Aku segera mengeratkan mantel panjangku. Ini sudah februari tapi masih saja dingin. Aku berdiri diperhentian bis yang tidak jauh dari sekolah. Perlahan kulangkahkan kakiku dan segera menaiki bis yang baru saja datang menyapaku.
Aku langsung membantingkan tubuhku yang terasa sangat kaku ini ditempat duduk paling belakang. Kepalaku langsung melekat di kaca jendela. Aku langsung menelan 2 pil penambah darah, aku tidak boleh terlihat anemia sekarang ini. Aku harus kuat. Menghela nafas sebentar dan menoleh kearah luar jendela.
Terlihat daun daun yang berguguran mulai berterbangan diluar. Daun itu seolah mengingatkanku, akan waktu yang terus berjalan dan akan habis pada masanya. Kuulurkan tanganku sambil menghapus embun yang ada di kaca jendela, perlahan ku hela nafasku lagi dan merasakan detak jantung dengan telapak tanganku.
Daun daun itu mengingatkanku satu hal, sampai kapan. Sampai kapan aku bisa merasakan detak jantung ini ? Sampai kapan aku bisa merasakan nafas ini. Sampai kapan aku bisa merasakan hidup seperti dulu lagi ? Kukeluarkan ponselku dan tersenyum melihat wajahku dan Ji Rin saat foto di photo box.
Jung Ji Rin, gadis tomboi yang sangat setia menemaniku menghabiskan masa masa hidupku. Dia gadis yang sangat baik, selain cantik sikapnya seperti seorang laki laki yang selalu melindungiku. Tiba tiba layar ponselku basah karna air mata yang sudah jatuh dari kedua mataku.
Sampai kapan aku bisa tersenyum seperti itu, apa Ji Rin bisa tersenyum lagi sekarang ini. Selama ini aku hanya berpura pura tegar dihadapannya. Aku terlalu banyak menyusahkan dan membuatnya sedih. Kuusap air mataku perlahan dan langsung melangkah turun dari bis.
Langkahku terhenti disebuah pintu hitam dihadapanku. Apartemen ini benar benar besar sekali. Aku cukup lelah saat naik ke lantai 11 ini. Aku menekan bel dan menunggu seseorang membukakan pintu.
"Siapa ?"
"Aku Choi Mi Yeon, hanya ingin mengantar coklat"
"Ah, ne. Arasso. Sebentar kubukakan pintu"ujar gadis itu
Aku bersandar sebentar dan terlihat sosok gadis mungil keluar dari dalam rumahnya. Aku tersenyum kecil dan memberikan kotak yang berisi coklat padanya. Setelah menerima upahnya, aku berbalik dan menoleh kearah jam. Aku harus segera menemui Ji Rin di taman, kalau tidak dia pasti sangat khawatir.
Kulangkahkan kakiku perlahan, tiba tiba aku tersungkur jatuh. Aku pusing sekali, kepalaku serasa berkeliling. Sekitarku tampak berputar cepat. Kakiku kembali menopang tubuhku perlahan, aku merasa sangat lemas sekarang. Kusandarkan tubuhku sebentar. Tanganku terus merayap di dinding bangunan.
Omo~ aku tidak boleh pingsan disini. Argh~ ini sakit sekali, aku tidak kuat lagi. Aku merasa tanganku menekan sesuatu. Tak terpikir lagi apa yang kutekan, yang jelas pandanganku sudah merabun sempurna. Tubuhku mati rasa, tak terasa lantai dingin yang sudah menyambut tubuhku yang sudah terjatuh
***
Eunhyuk PoV
Ting tong~ ting tong~ bel berbunyi seolah mengagetkanku di kamar. Aku berdercak pelan dan langsung melangkah keluar rumah. Siapa sih ? Jarang jarang kan ada yang menekan bel siang siang begini. Ku tekan tombol spy sistem dari ruang tengah. Tak terlihat siapapun disana.
Tak mungkin masa orang iseng di apartemen semewah ini. Aku menghela nafas perlahan dan memperhatikan kamera pengintai dengan seksama. Chakeman, itukan uang ? Kenapa bertebaran. Omo~ apa ini yang dinamakan rejeki disiang bolong. Hahah Hyuk Jae kau sangat sangat beruntung.
Aku langsung berlari menuju pintu utama, kubuka pintu perlahan dan terkejut melihat sesosok gadis yang tersungkur dilantai bagaikan mayat. Aku langsung mengangkat tubuh mungil itu dan membaringkannya disofa ruang tengah. Kenapa bisa ada gadis pingsan didepan rumahku.
Ash ! Sial ku kira ini hari keberuntunganku. Ternyata tidak juga. Ku rebahkan tubuhku di depan gadis itu, aku mengusap wajahku dengan kedua tanganku. Omo~ apa yang harus kulakukan pada gadis ini. Aku menggaruk kepalaku pelan dan langsung menepuk pundakknya perlahan.
Tidak ada respon sama sekali. Kulitnya terlihat sangat putih dan pucat. Bibirnya juga kering. Kenapa gadis ini ? Dia seperti pucat sekali. Kuambilkan bantal kursi dan mencoba meletakkannya dibawah kepala gadis ini. Tiba tiba dari hidungnya mengalir darah segar. Sontak aku langsung mengambil saputanganku
Omooo~ kenapa lagi dia. Aigooo~ kenapa masa liburanku harus kuhabiskan untuk merawat gadis yang sama sekali tidak ku kenal ini. Chakeman. Sepertinya dia mengidap sakit yang parah, bagaimana kalau dia mati disini. Omooo~ aku bisa masuk penjara karna dituduh membunuh gadis SMA ini.
Anio, aku hanya membantunya. Tidak mungkin dia akan mati. Kuulurkan tanganku lagi dan mencoba membangunkannya. Kumohon, bangun lah agashi teriakku dalam hati. Perlahan respon positif mulai menyapa tanganku. Tubuhnya bergerak perlahan, aku tersenyum kecil saat gadis itu sudah membuka matanya perlahan
"Aigoooo~ terima kasih Tuhan, akhirnya dia bangun juga"seruku lega dan langsung berbaring dilantai
"Aku.. Dimana ?"Tanya gadis itu. Aku langsung duduk lagi dan melihat wajah gadis itu. Matanya sangat indah.
"Kau dirumahku agashi, tadi kau tersungkur jatuh diluar. Kau tidak apa apa kan ?"
"Aigo~ mianhae ajusshi. Kalau begitu aku permisi dulu"ujarnya dan langsung beranjak meninggalkan ruang tengah
"Mwo ? Ajusshi ? Apa wajahku sudah setua itu" gerutuku
"Ach~ argh~" ringis gadis itu lagi, ia tersungku disudut ruangan sambil memegang kepalanya
"Agashi ? Gwenchana yo ?"Tanyaku dan langsung membantunya berdiri. Wajahnya pucat sekali, bahkan darah terus mengalir dari hidungnya
"S...sa...sakit, omooo~ ini sakit sekali"
"Jinjja ? Sebegitu sakitnya ? Perlu ku panggilkan dokter. Aigo~ kenapa darah ini tidak berhenti mengalir ? Seperti leukimia saja"
Tiba tiba dia mendorong tanganku perlahan. Ia berdiri perlahan dan langsung meninggalkanku yang masih bingung melihat sikap gadis ini. Kenapa dia ? Sepertinya dia marah ? Apa aku mengatakan hal yang salah ?
"Terima kasih sudah menolongku, dan sudah mengingatkanku ajusshi "ujarnya dan menghilang dari pandanganku
Terdengar suara pintu tertutup. Udara disekitarku terasa hangat. Pandanganku masih terpusat pada tembok putuh yang ada didepan. Apa apaan ini ? Aku..diliburanku hanya untuk menolong anak SMA, aku dipanggil ajusshi oleh anak SMA, dan sekarang aku terduduk seperti orang bodoh oleh gadis SMA. Omo~ apa apaan ini
Kutoleh kan pandanganku kearah sofa. Ini apa ? Seperti buku diary. Aku membukanya perlahan dan melihat wajah gadis tadi di halaman depan buku itu. Choi Mi Yeon. Sepertinya ini terjatuh dari saku bajunya tadi. Aku membuka halaman terakhir dan terkejut melihat isinya. Apa aku bisa bahagia di 3 bulan terakhirku ?
Gadis tadi. Aku membawa halaman belakang dan menutup buku itu perlahan. Bahkan dia tidak menyadari siapa aku. Kasihan. Dia pasti menderita penyakit yang berbahaya. Aku menyimpan buku itu di laci mejaku. Aku akan kembalikan buku ini. Mungkin besok, dia pasti sekolah.
Huah, badanku terasa hampir hancur sempurna. Setelah latihan seharian penuh badanku terasa sakit semua. Aku langsung masuk ke mobil dan duduk disebelah DongHae yang sedang sibuk dengan ponselnya. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Supir mulai menyalakan mobilnya dan mulai berjalan.
Baru membuka mata, kulihat seorang gadis dengan baju SMA dan mantel yang tebal berjalan di depan mobil yang kunaiki. Itukan gadis kemarin. Aku langsung beranjak duduk. Terlihat beberapa pria dengan seragam sekolah yang berbeda mengikutinya dari belakang. Kenapa firasatku jelek ?
Kubuka pintu mobil. Kupakai topi dan mantel panjangku. Langkahku dengan cepat berusaha menyusul gadis tadi. Tiba tiba salah satu dari pria berseragam hitam itu merangkul gadis tadi dan menariknya ke sebuah taman yang terlihat sepi. Aku langsung berlari menyusul mereka
"... Sendirian saja, ayo kita karokean saja ?"
"Maaf, aku mau pulang"
"Hei kami yang teraktir, ayolah. Jangan jual mahal seperti itu"
"Lepaskan aku, aku mau pulang"
"Yak~ apa kalian tidak dengar ? Gadis itu ingin pulang"ujarku
Pria itu hanya menatapku dengan tatapan garang. Tiba tiba ia menarik kerah bajuku. Aku menghela nafas sebentar, dan menggengam tangannya dengan kuat. Kenapa tidak sopan sekali anak ini.
"Pergi"ujarku sambil mendorong tubuh pria itu
"Jangan banyak bicara ajusshi"
"Jangan panggil aku ajusshi !"Seruku kesal dan langsung melayangkan satu pukulan ke pipi yang menarik kerah bajuku
"Woooh~ kalian masih muda, sampai sampai wajah kalian keras sekali. Auch~"tambahku "pergi kataku !"
Mereka terlihat takut, dan langsung pergi meninggalkan kami berdua. Aku mengibaskan tanganku perlahan, baru berbalik. Tiba tiba kurasakan genggaman halus mengenai tanganku. Tangannya yang lembut itu membasuh tanganku yang semakin memerah. Aku merasa tidak kesakitan lagi. Hebat.
"Maaf ya, tadi... Gara..gara gara aku.. Tanganmu jadi sakit dan...dan merah seperti ini"ujarnya tiba tiba sambil menangis
"Wae ? Anio..Gwenchana... Aigo... Kenapa kau mesti menangis ha ?? Yak... Berhentilah menangis, nanti kalau ada yang lewat-"
Ucapan ku terhenti karna kurasakan pukulan keras menyapa pipiku secara tiba tiba. Aku tersungkur pelan dan langsung melihat kearah gadis tadi. Gadis tadi sudah tidak sendirian lagi. Dia sudah berdiri dengan seorang gadis yang lain. Anio, bukan gadis. Dia lebih terlihat laki laki dengan rambut pendeknya dan sikapnya
"Bisa salah paham"lanjutku, aku berdiri perlahan dan melipat kedua tanganku didepan dada "dan kau beraninya-"
"Mi Yeon ah , kau tidak apa apa kan ?"Tukas gadis itu membuatku kesal. Dia tidak menghiraukan perkataanku
"Gwen...gwenchana"
"Yak, ajusshi ! Apa yang sudah kau lakukan pada Mi Yeon ha ?"
"Ha ? Aku ? Ajusshi. Aigooo~ aku belum setua itu"gerutuku kesal "lagi pula aku tidak melakukan apapun, aku malah menolongnya tadi"
"Kau-"
"Ji Rin ah, sudah. Dia tidak bohong. Dia memang menolongku tadi, hanya saja aku merasa bersalah membuat tangannya memar seperti itu"
"Omooo~ jinjja ?"
"Kurasa ada seseorang yang perlu meminta maaf saat ini"
"Mwo ? Anio ! Mi Yeon ayo pulang !"
Kedua gadis itu lama kelamaan lenyap dari pandanganku, aku menghela nafas panjang dan merogoh saku jaketku. Aigooo~ buku diarynya. Ash~ sialnya hari ini. Sudah latihan seharian, tanganku sakit, pipiku lebam, bertemu anak yang tidak sopan, buku diary ini juga tidak kukembalikan, ditambah lagi....
Omo~ bagaimana caranya aku pulang, tas dan dompet ku kan ada dimobil. Ash ! Sial ! Kukeluarkan ponselku dari saku celana, mudah mudahan ada yang berbaik hati datang menjemputku. Tapi siapa ? Aku yakin mereka semua sudah tertidur pulas dirumah. Tapi, bagaimana kalau aku mengembalikan diary ini saja. Ya biar tuntas segala sesuatunya. Tapi dimana rumahnya ? sudahlah jalan lurus saja.
To Be Continue....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar